Breaking

Friday, April 19, 2019

Membedah Strategy "Mind Control" yang saat ini dilakukan oleh Media nasional

Membedah Strategy "Mind Control" yang saat ini dilakukan oleh Media nasional

Membedah Strategy "Mind Control" yang saat ini dilakukan oleh Media nasional

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

Sebelum memulai membedah strategi mind control media Nasional yang saat ini sedang berlangsung, izinkanlah saya memperkenalkan diri kepada sahabat pembaca semua. Agar sahabat mengerti posisi saya, serta niatan saya menulis artikel ini.
Perkenalkan nama saya Muhammad Teguh, pemilik Asian Netwalking Media Group, yang merupakan media lokal berstandar internasional. AN Media merupakan rekan kerja Google yang stelah terverifikasi (Verified Google PartnersI. Meskipun AN Media tidak memiliki kantor yang besar, namun AN Media memiliki jaringan media yang luas, serta memiliki sponsor yang alhamdulillah banyak, ambil contoh CPA Grip, CPA LeadsClick Dealer [ClickDealer is a leading performance marketing agency facilitating campaigns in the market's most lucrative verticals like E-commerce, Dating, Health and more.] Nilai kontrak iklan kami dengan Click dealer mencapai $650 per leads, atau sekitar 9 juta rupiah untuk satu kali aksi dari pembaca kami.
Pertemuan CPA LIFE clickdealer 2019

Selain AN Media, saya juga memiliki beberapa website (lebih dari 10) mulai dari web jualan, web travel, hingga blog berita. 


Saya memulai menulis semenjak tahun 2009, kemudian mulai serius untuk menjadikannya bisnis produktif ketika saya sedang menyusun Tesis S2 saya di Semarang 5 tahun yang lalu. Dan saat ini, saya alhamdulillah sedang dalam proses menyelesaikan disertasi S3 saya di bidang Islamic Science Education.
Jadi, Insyaallah, saya menulis ini bukan karena dibayar, bukan merupakan bagian tim sukses, atau disuap untuk tujuan tertentu. Percayalah, untuk urusan iklan, alhamdulillah kami sudah mandiri. Dan, prioritas kami saat ini adalah untuk memberikan pencerahan dan perubahan yang nyata bagi Indonesia (minimal dengan cara memberikan sudut pandang baru, berbasis media massa). 

Bukankah kampanye melalui Media harus di lawan dengan media juga....?

Kalau ada yang mengatakan, "AN Media merupakan media abal-abal, ga berbobot", jujur saja saya ga peduli, karena Adalah tidak mungkin perusahaan raksasa yang menjadi sponsor kami, menerima website abal-abal. 

Saya merupakan Owner, founder, AN Media, jadi saya akan menggunakan bahasa saya sendiri untuk membahas strateginya ya.

Oke, langsung saja. 
Saya akan membahas Strategi pengendalian pikiran (mind control) yang saat ini sedang berlangsung, di lakukan oleh media Nasional. Saya akan menjelaskannya menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga insyaallah bisa difahami oleh semua orang. 

Salah satu kampanye yang paling "nyebelin" yang saat ini sedang berlangsung ini adalah kampanye yang saya sebut dengan "alam bawah sadar campaign", atau kampanye yang menggunakan strategi pengendalian pikiran (mind control) masal yang dilakukan oleh Media arus utama (mainstream). 

Secara garis besar, alur kampanye-nya adalah dengan cara berikut:

Phase 1. Serangan media (dilengkapi dengan pengamat dan para tokoh) kepada publik berupa data quick count. Mengenai masalah perhitungan statistik ini, tentu aja kita bisa berdebat panjang tentang ini, dan data dari 2000 TPS sama sekali gak bisa mewakili 800ribu lebih TPS se Indonesia.
Serangannya berlangsung maksimal 40 jam semenjak pukul 15.00 (sesuai dengan instruksi rilis Komisi penyiaran indonesia, yang nyebutin bahwa "lembaga survey yang ngumumin hasil sebelum pukul 15.00 adalah HOAX).
Serangan ini bertujuan untuk membangun database di alam bawah sadar penonton atau pembaca, bahwa berdasarkan quickcount capres 1 menang telak. Dikuatkan oleh para pakar serta ahli statistik.
Setelah dirasa cukup (penonton atau pembaca dapat mengingat siapa yang menang dan angka/persen kemenangan), serangan phase 2 diluncurkan.

Phase 2. Semua media (televisi) tidak lagi menyiarkan perihal pilpres, jikapun ada, beritanya gak masif, gak ada data baru. Artinya, data berupa angka statistik hilang dari peredaran. Seperti gak pernah terjadi apa-apa, hilang begitu aja.

Sampai sejauh ini, serangan tersebut memberikan dampak, yakni:
untuk pendukung capres 01: akan merasa senang, di atas angin, menang,.
untuk pendukung capres 02: akan merasa down, akan merasa dicurangi, akan merasa perlu melakukan hal tertentu.
Saya gak bisa (berani) untuk menyampaikan serangan selanjutnya. Saya akan membahasnya apabila serangannya telah terjadi. Saya gamau berspekulasi di sini.

Coba saja sahabat perhatikan media televisi sekarang, apakah mereka memberikan berita "seheboh" kemaren.....?
Padahal, secara teori dan teknik pemasaran digital (internet marketing) Media yang berhasil menyajikan apa yang pembacanya inginkan adalah media yang memenangkan persaingan. Jadi, aneh saja, saat ini seluruh indonesia sangat menginginkan informasi terkait pilpres secara detail, namun mengapa beritanya tidak seheboh kemaren. Seolah-olah bukan pesta yang ditunggu-tunggu selama lima tahun. 



Perlu sahabat ketahui, media merupakan alat propaganda yang paling powerfull saat ini, karena media bisa membuat orang tidak bersalah menjadi terdakwa, pun bisa membunuh karakter seseorang sekejap mata. 

Lantas, apa yang harus kita lakukan....?
Kita harus tenang, menahan diri, dan yang terpenting terus berdiskusi dengan kami [AN Media] selaku media yang independent berstandar internasional.

Bila sahabat ingin berdiskusi dengan saya, silahkan langsung menghubungi saya, jangan sungkan untuk langsung mengunjungi:

Fanspage facebook: Teguh Adang
Instagram: @dr.emte

Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact